Tuesday, October 25, 2005

Microsoft Akan Keluarkan 'Surat Sakti' Anti Sweeping!


akarta, Presdir PT Microsoft Indonesia Tony Chen mengatakan akan membuatkan 'surat sakti' anti sweeping seusai menandatangai nota kesepahaman (MoU) dengan Asosiasi Perusahaan Retail Indonesia (APRINDO). MoU itu berupa kesepahaman akan pemakaian software asli Microsoft dikalangan APRINDO.

"Dalam waktu dekat ini, kita akan buat semacam 'surat sakti' anti sweeping buat klien besar kami yang fully comply customers," ujar Tony Chen di Hotel Crowne Plaza menjawab kekhawatiran para pengusaha retail yang hadir pada penandatangan itu.

Tony mengatakan salah satu contoh kliennya yang sudah fully comply customers antara lain Hero Supermarket dan Hypermart. Sedangkan maksud fully comply customers sendiri ialah perusahaan klien Microsoft yang semua komputernya sudah terlisensi produk Microsoft.

"Nanti 'surat sakti' itu akan ditaruh di meja depan resepsionis," kata Tony. "Jadi kalau polisi datang, mereka nggak perlu lagi periksa ke dalam untuk melakukan sweeping komputer satu per satu," jelasnya.

Menurut Direktur Small and Midmarket Solutions and Partner Groups Microsoft Indonesia, Megawaty Khie, 'surat sakti' itu kemungkinan akan diterbitkan Microsoft Indonesia dalam waktu dekat ini.

"Mudah-mudahan bisa keluar tahun 2005 ini. Kita masih sedang membicarakan hal itu dengan tim legal departemen di Singapura," ujarnya kepada detikinet.

Untuk menetapkan bahwa sang perusahaan klien Microsoft layak mendapatkan 'surat sakti' itu, menurutnya, nantinya diperlukan pengesahan oleh auditor independen.

"Harus yang independen untuk mengaudit perusahaan secara objektif. Hal itu juga demi meyakinkan agar pihak polisi percaya dan tidak men-sweeping," jelasnya memberi alasan.

Chairman APRINDO Handaka Santasa meminta Microsoft untuk segera mencari jalan keluar untuk masalah itu. Itu dikarenakan pihaknya merasa sudah mengeluarkan uang banyak untuk membeli lisensi Microsoft. Handaka juga meminta Microsoft untuk mensubsidi lisensi itu karena minimnya jaminan hukum yang diberikan dan masih menggunakan kurs dolar dalam transaksi pembelian lisensi itu.

Menurut Handaka, APRINDO merupakan asosiasi yang beranggotakan 72 perusahaan retail yang memiliki 4.200 cabang di kota-kota besar di Indonesia. Kegiatan bisnis anggotanya beragam, mulai dari mini market, supermarket, hypermarket, department store, apotek, toko bangunan, koperasi.

Penandatangan itu ditegaskan Handaka hanya sebagai bentuk penerapan UU HaKI no. 19/2002, demi mendapatkan perlindungan hukum karena telah menggunakan software legal.

Tegaskan Tidak Terlibat Sweeping

Tony Chen secara tegas menolak tuduhan bahwa pihak Microsoft Indonesia 'main mata' dengan aparat kepolisian perihal sweeping.

"Isu itu sudah merebak sejak masalah warnet yang sudah berlisensi legal tapi masih kena sweeping juga. Itu membuktikan kalau kita tidak terlibat sama sekali," klaim Tony. "Selama ini polisi tidak pernah cek ke kami apabila ingin melakukan sweeping," tambahnya.

Megawaty juga mengatakan hal yang sama. "Mereka (aparat kepolisian-red) sebenarnya tidak pandang bulu dalam men-sweeping demi penegakan HaKI (Hak Atas Karya Intelectual-red)," kata Megawaty.

Dalam acara ini, Microsoft didesak oleh para pengusaha retail itu untuk membuat kepastian hukum agar mereka bisa merasa tenang dalam berbisnis. Salah satu perwakilan retailer dari Ramayana, dalam acara itu, juga sempat mengeluhkan bahwa perusahaannya pernah mengalami masalah dengan aparat kepolisian saat di-sweeping.

"Staf TI (teknologi informasi) kami sampai harus bolak-balik ke kantor polisi dan di-BAP-kan (Berita Acara Perkara) layaknya pencuri," keluhnya.

Menanggapi hal itu, dan untuk ke depannya, Tony menjanjikan akan memberikan bantuan kepada konsumennya. "Kami akan beri re-active support. Kami biasanya di kasus seperti ini dimintai pertolongan menjadi saksi ahli untuk memberikan keterangan," paparnya.

Tidak Ada Software Bekas, Hanya PC Bekas

Selama acara ini berlangsung, pihak Microsoft dihujani pertanyaan yang bertubi-tubi mengenai berbagai hal yang menyangkut kepentingan bisnis para pengusaha retail tersebut. Salah satu pengusaha itu menanyakan, "Apakah software Microsoft bisa dijual kembali sebagai software bekas layaknya pengadaan PC (komputer) bekas impor yang didukung oleh Microsoft?"

Mendengar pertanyaan itu, Tony Chen pun menjawab dengan diplomatis. "Komputer bekas hanya untuk sektor pendidikan saja. Berhubung menurut lembaga survei IDC enam bulan lalu, penetrasi PC di Indonesia hanya sebesar dua persen saja. Itu sama saja dengan satu PC di Pulau Jawa diperebutkan 847 anak. Sedangkan di luar Pulau Jawa, angka itu lebih menyedihkan, satu PC diperebutkan oleh 1.900 anak," paparnya menjelaskan.

"Kita bukan ingin mengimpor sampah. PC bekas itu hanya untuk menunjang program PIL dan CTLC kami saja. Lagipula komputer bekas itu harus yang masih layak pakai," tegas Tony. "Buat orang-orang di pedesaan yang belum pernah memakai bahkan melihat komputer, hal itu sangat membantu mereka dan membuat terharu," jelasnya.

Partner in Learning (PIL) dan Community Based Training and Learning Center (CTLC) itu merupakan inisiatif global Microsoft. Program PIL bermaksud untuk membantu masyarakat dalam sektor pendidikan. Sedangkan CTLC lebih ditujukan untuk menjembatani kesenjangan digital. Saat ini yang menjadi fokus Microsoft untuk program CTLC itu yakni kalangan petani. Program itu juga diklaim Tony sejalan dengan program Community Access Point (CAP) dari Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo).(rou)

2 Comments:

At 6:58 PM, Blogger Antonio Hicks said...

Human beings, who are almost unique in having the ability to learn from the experience of others, are also remarkable for their apparent disinclination to do so.
Douglas Adams- Posters.

 
At 1:27 PM, Blogger mikecollins02136911 said...

I read over your blog, and i found it inquisitive, you may find My Blog interesting. My blog is just about my day to day life, as a park ranger. So please Click Here To Read My Blog

http://www.juicyfruiter.blogspot.com

 

Post a Comment

<< Home