Tuesday, September 21, 2004

# RangkaiankU + Story Love #

PENANTIAN

Akhir dari sebuah penantian adalah cinta
Awal dari penantian adalah cinta
Penantian adalah cinta

Takkan berakhir penantian tanpa cinta
Takkan dimulai penantian tanpa cinta
Takkan ada penantian tanpa cinta

Biar sepi datang temani diriku dalam penatiaan
Biar sepi datang jaga cintaku dalam penantian
Tanpa sepi aku akan berpaling

Datang dingin selimuti alam fikiranku yang bergolak
Bekukan fikiranku dan tenangkan batinku yang bergolak
Tanpa dingin aku akan berpaling

Aku terus menanti
Hingga datang sang waktu
Hembuskan cinta dan kepastian
Yang dahulu awali penatianku
Kini aku akan akhiri penantianku
atas nama cinta


Resah

Resah kududuk penuh penantian
Dalam rindu yang terbelenggu benci
Cinta yang tersirat dalam mimpi
Tentang seseorang yang membuatku bahagia

Bimbang jiwa ini
Antara benci dan cinta yang terkurung dalam mimpi
Dan ketika denting suara hujan jatuh di telingaku
Air itu jatuh dari mata

Dan saat kutahu ada kamu
Dengarlah suara hati seorang kekasih
Hanya saat hingga denting lenyap
Karena aku hanya ingin mencitai dan dicintai

Demikianlah
Tapi dimana malumu saat kau tinggalkan aku
Terbelenggu mimpi sepi
Dan aku bertanya , ada apa dengan cinta?


Hati untukmu

Aku punya hati untukmu
Sudah siap sejak dulu
Mereka sekedar pinjam dariku
Sekarang kau telah kembali
Siap untukku

Sekedar hati yang bisa kuberikan
Tak lebih yang kupunya
Memang sudah tak utuh
Setidaknya ada untukmu

Apa yang ada terimalah
Bersama ikhlas yang selimuti hati
Berharap kau balas
Setelah kau siman dihatimu

Cintamu aku harapkan sangat
Tapi tak lebih penting dari sayangmu
Dengan kesetiaan yang tulus
Yang hanya bisa kuharapkan


Segumpal Daging Tanpa Rasa

Kerikil-kerikil itu pantulkan cahaya,
Menyayat lembut gumpalan rasa
Lalu butiran peluh lahir dari rasa
Bakar emosi dalam diam terbakar norma

Kegetiran rasa terbelah cahaya benci
Gumpalan daging tanpa rasa
Kecuali naluri dan birahi

Terjebak didua belah kegamangan
Antara rasa yang terbelah dusta


Sebuah mimpi

Maafkan aku
Tak punya cinta
Untuk membuatmu menangis
Aku hanya punya lelucon
Untuk membuatmu tertawa
Namun, aku ingin tetap mencintaimu
Dari tebenamnya matahari
Sampai terbitnya bulan purnama
Dan kau akan tetap menjadi
Kekasih sejatiku
Dalam sebuah mimpi malam


Kurelakan

Tolong renungkan dikedalaman hati yang paling damai dan jernih
Yakinkan keputusanmu
Karena hidup adalah kesendirian
Jadilah diri sediri
Putuskan yang terbaik untukmu
Walaupun harus meninggalkanku
Dan akan ada luka dihatiku
Namun…
Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku
Karena kutahu
Cinta tak selalu harus memiliki
Biarkan aku mengalah demi cinta sejatiku


Segumpal dosa

Semua telah berlalu
Kubiarkan cinta ini terhempas
Terasa mulai terkikis oleh waktu
Aku tahu kau tak mencintaiku
Kau balut wajahmu
Dengan topeng topeng cintamu
Kau selimuti tubuhmu
Dengan jubah kepalsuan
Kau suguhkan aku
Dengan untaian kata beracunmu
Kau jadikanku tak berguna
Karena berfikir kamulah segalanya
Sungguhpun kutahu kau berdusta
Aku tak kuasa
Kau bunuh aku
Dan aku hanyalah segumpal dosa


Pernyataan

Bosan aku dengan kata cinta
Muak aku dengan kasih
Hanya akan meninggalkan sebuah kata
Sakit…
Tapi tak berdaya
Kuterima kenyataan takdir hati
Aku tetap mencinta walau mata tak terbuka
Dengan tangis dihati,
kunyatakan tak akan berhenti… mencinta...


Biarkan

Biarkan tangan menggapai asa
Biarkan kaki melangkah menuju cita
Biarkan hatimu merasakan cinta
Dari bibit yang telah siap disemai
Dari hasil yang kita tanam
Akan kedekatan selama ini
Walau kutahu itu hanya pengharapan bagiku


Kecewa

Bila hari itu datang
Ingin kuungkap semua rasa didada
Ingin kuluapkan resah jiwa
Ingin kubanjiri dunia ini dengan air mata
Karena aku tahu pada saat itu
Aku tak dapat lagi menahan semua
kecewa di jiwa


Andai

Aku tak dapat berkata
lidah terasa kelu
Tangan terasa kaku
Hati terasa mati
Seandainya tak dapat terasa
Mata tak melihat kau lagi disisi
Seandainya bisa tetap bersama
Mungkin tak secepat ini hari berganti


Dan Aku Akan Begini

Hari ini kubelajar pada sang dewi cinta agar tunduk pada cinta
Aku di telanjangi
Dari keegoisanku
Kemudian aku belajar
Menjilati setiap keringat yang menetes ditubuhnya
Aku belajar
Melumat kepahitan dibibirnya
Aku belajar
Menahan setiap tusukan yang ia hujamkan
Sampai kucuran darahku menenggelamkan jasadku
Aku akan begini
Dan selamanya seperti ini
Sampai aku mati
Ditengah tandus dan kegersangan hatinya


Lilin Hati

Aku hanya sebuah lilin
Dan takkan bisa menjadi sebuah matahari
Tapi kukan berusaha menyinari kegelapan relung hatimu
Walau pada saatnya diriku kan habis terakar api
Namun kehangatanku terasa
bila kau mendekat disisiku
sinarku hanya terlihat dipekatnya malam
dan kerinduanmu


Saat Yang Datang

Ada saat datang
Ada saat pulang
Yang datang membawa harapan
Yang pulang tinggalkan kenangan
Menatap bintang tetaplah bintang
Dimataku ada laut membendung
Dipundakku ada bumi tergantung
Bintang tetaplah bintang
Menjulang dilangit malam
Bagaikan lilin yang melelehkan hidupnya pada sang malam.
Saatnya tuk pulang.
Ada saat datang
Ada saat pulang
Datang atas permintaan
Pulang atas permintaan
Mengetahui pagi kan menjelang
Tiba saat untukku pulang


Hidup

Izinkan ranting tumbuh bercabang
Namun biarkan akar tetap tunggal
Daun dan bunga adalah alasan
Agar pohon menjadi rindang
Menyejukkan alam kita


Menanti

Selalu ada yang pertama kali untuk segalanya
Cinta adalah bagian nyata diri kita
Seringkali mencintai sesuatu
Merupakan satu satunya tempat memulai untuk membuat hidup ini menjadi milik kita sendiri
Dan aku akan memulainya dengan mencintaimu
Walau kau masih dengannya



Dengan Bangga

Kalau aku hanya bisa menjadi temanmu
Dan kalau hanya itu tempat untukku dihatimu
Akan kuterima itu dengan bangga
Aku buktikan diriku yang teraik untuk menjalaninya
Akan kuberikan padamu bahuku
Untuk tempat mengadu
Akan kutunjukkan betapa pedulinya aku padamu
Aku akan selalu siap saat kau membutuhkanku
Aku akan selalu berada didekatmu
Kalau aku hanya bisa menjadi temanmu
Yang mendengar saat kau mencurahkan isi hatimu
Akan kuterima itu dengan bangga
Akan kujalani dengan sukacita
Cintaku padamu lebih dalam
Daripada apa yang akan pernah kau sadari
Tapi…
Mengharapkanmu mencintaiku
Untuk itu mesti kubiarkan kau berlalu
Kau perlu waktu untuk merenungkan fikiranmu
Tapi…
Saat perjalananmu berakhir dan jalur yang kau tempuh selesai sudah, ingatlah aku sahabat baikmu
Yang mencintaimu sejak awal…


Telah Pergi

Saat terakhir kupeluk tubuhnya
Aku merasakan bahwa dirinya bukan lagi milikku
Saat kutatap matanya
Kulihat ada yang lain disana
Kebahagiaannya menjadi kegundahan hatiku
Tapi…
Mengapa semuanya harus berubah
Yang kurasakan kini hanya kehampaan dan dinginnya hati
Kau campakkan aku
Aku rasakan kau seperti pemangsa
Buas dan tak bersahabat
Mengapa harus seperti itu yang terjadi
Sungguh aku kehilangan dia
Cinta yang pernah aku banggakan
Akan keindahannya
Kini layu sudah


Serpihan Puing Cinta

Masih tersisa kerinduan dihati ini
Walaupun sedih belumlah sirna
Tak tau mengapa
Aku tak dapat melupakanmu
Aku masih sangat menyayangimu
Meskipun tak dapat kupungkiri
Bahwa hati ini telah luka
Akibat semua dustamu
Pernah kau lukai aku,
Khianati, Sakiti
Hingga benci menyelimuti hati
Tapi tak dapat kubohongi diri ini
Aku masih mengingatmu, mengharapkanmu
Tak tahu berapa banyak lagi
Air mata yang akan menetes
Untuk mengenangmu
Tapi aku harus rela menghadapi kenyataan
Kau bukan lagi milikku


Masih Adakah

Masih adakah cinta yang tersisa untukku dihatimu
Masih adakah tepat dihatimu untuk kasih dan sayangku
Masih adakah semua itu?
Mengapa tak dapat kau balas sayangku padamu
Apakah aku tak pantas mendapatkan cintamu
Mengapa kau permainkan aku
Mengapa kau tega melakukan itu padaku
Semua kasihku hanya untukmu



Perjuangan Cinta

Perjuangan memang adanya harus dilakukan
Tidak masalah apakah kau mati atau hidup
Yang penting kau telah mengumandangkannya ke medan perang
Untuk mendapatkan kemenangan
Tidak peduli siapa lawan yang akan kau hadapi
Dengan senjata dari zaman primata
Jika kau terus melaju tanpa rasa takut
Percayalah
Mati pun kau akan merasa mereguk arak dari cina
Sakitnya luka tusukkan tidak akan terasa begitu menyakitkan




Hanya waktu. .

Dalam nada lagu yang dalam
Aku ingin kau membuka telinga
Menyapa kesepian alam
Dengan tanganmu yang lembut aku ingin kau raih kelemahanku

Dalam riak yang terputus-putus
Aku ingin kau membuka mata
Melihatku mengorbankan air dari lautanku
Jangan sampai gelombang menyarukanku
Dan kau terbutakan dari hasratku yang begitu kecil

Dalam sunyi bumi
Aku ingin kau rasakan
Sehembus angin dingin
Yang diisi bisikkan dariku
Sebuah mulut, hati serta pikiran
Yang dijejali sebuah wajah, namamu, suara, sebuah nama Adit.




Adit

Petir terdengar bengis
Mendung. Bukan mendung
Sebab keberadaannya tidak begitu indah
Juga buruk
Tetapi suaranya membuatku bertambah ragu untuk terus maju
Berperang tanpa pedang yang panjang
Memburu musuh tanpa senjata ampuh
Mempersembahkan upeti kepada ratu Tanpa emas dan permata di dalamnya
Hanya kata cinta
Yang akan dituliskan di sehelai daun
Maka kau boleh membalasnya


Senyum

Adit
Wahai, pria terbalut sutera
Kau tebarkan wewangian ke jalanku
Dengan tanganmu
Yang belum aku jamah

Kau sebarkan senyum ke seantero taman
Dengan bibirmu yang memerah ceri
Yang belum aku cium di alammu

Adit
Begitu nama terbuka di jendela mulut pria
Aku langsung terjerat rantai
Yang mengikat kakiku untuk tetap terpaku
Menatapmu
Yang berdiri bersama kegagahan
Yang pertama kali membuat jantungku memukul keras
Nadanya terdengar kencang dan cepat
Jika saja kau tempelkan telingamu di dadaku
Mungkin kau akan tahu
Bahwa aku sedang ingin mencintaimu


Waktu

Jika waktu semakin mendekatiku
Aku akan menjauhinya
Agar mataku tetap mendapatkan pandangan
Tentang seorang Adam
Adit
Jangan salahkan aku
Jika hasrat ingin memilikimu
Dengan sebuah kesederhanaan jiwa
Serta ketulusan hati
Yang tidak dapat dinilai oleh kata
Tetapi cinta




Dua Kata Putus

Kurasakan ada debar tak menentu menyerang di balik dadaku,tiba-tiba. Ya, mendadak kurasakan debar aneh saat sosok Adit, semakin dekat dari langkahku. Kucoba mengelus dada, tak boleh kalah, selama ini yang kudapat hanyalah siksa jiwa meski aku dan Adit mengaku saling mencintai. Alasan saling mencintai itulah yang membuatku terpuruk selama ini. Adit yang temperamental,tak hanya sering membentakku, tapi juga menamparku bila dia tak bisa menguasai dirinya. Namun aku tetap bertahan di sisinya, tetap mempertahankan cinta di hati. Menunggu hingga Adit yang kukenal lima tahun lalu, membuang sikap kasarnya.Kalaupun memang tak bisa berubah lagi, aku bisa memaklumi sekaligus memaafkannya. Sikap kasar itu kusepuh dengan emas setiap teman bahkan Mama menanyakan penyebab air mataku. Tapi apa yang kudapatkan pada diri Adit akhir-akhir ini,membuatku tak bisa berpikir dua kali untuk meminta putus saja.Bukan sekali aku melihatnya bermesraan dengan dara. Bahkan kemarin kudapatkan ia mendaratkan kecupan di pipinya. "Kita putus saja!" ucapku di antara debaran dahsyat yang masih menguasai rongga dada. Sedikitpun dia tak terkejut dengan kalimatku barusan. Hanya mengulurkan tangan pertanda minta maaf. "Aku minta maaf. Hubunganku dengan dara selama ini hanyalah sandiwara,untuk memanas-manasi cowoknya,Cuma akting!" Darahku seketika meluap langsung mendidih. Hubungan sejauh itu hanya sandiwara tanpa pernah meminta persetujuanku? LaLu apa arti diriku selama ini? Hanya untuk dibentak, bahkan ditampar? Lagi pula, jika itu cuma sandiwara. Mengapa dia dan dara harus kaget seperti melihat mahluk alien saat aku hadir di antara mereka?
"Oke aku percaya, hubungan itu hanya sandiwara. Tapi apakah adegan ciuman kemarin juga Cuma akting, tak berasa? Menggandeng dara depanku, juga cuma akting? Sinis aku. Kurasakan lenganku sakit tergenggam oleh tangan kokohnya saat kucoba untuk menjauh. Matanya sangat mengharap, memintaku tetap berdiri di depannya. Kucoba memenuhi permintaan itu meski kupilih untuk.diam Matanya memang selalu membuatku tunduk, bahkan takluk. Aku tak pernah punya keberanian untuk menatap matanya saat mukanya memerah karena amarah. Terlebih lagi, aku tak pernah bisa membiarkan mata elang itu dibasahi manik bening dari retinanya sendiri Ya Adit, dia sering menangis untukku dan suaranya selalu kubalas dengan pelukan karena. tak bisa melihatnya menangis. Aku pun heran. Semakin lama aku bersama Adit, semakin aku tahu siapa dirinya sebenarnya. Mendengar tawanya yang renyah terkadang membuatku berpikir bahwa Adit tak pernah mengenal kata marah. Tapi mengapa terkadang hanya karena aku tak ada dirumah saat dia menelepon, amarahnya seperti orang yang mendapatkan kekasihnya selingkuh, tanpa segan menamparku. Terkadang belum semenit setelah meluapkan amarah, dia langsung menangis di depanku. Berubah lembut, membawaku terbang ke atas angin setelah meniupkan badai untukku. Berubah menjadi cowok paling penyayang. sejagat, seolah tak pernah ada gejolak yang baru saja hendak menenggelamkanku. Selama ini aku selalu sabar mengikuti gejolak itu. Karena kutahu, badai sebesar apa pun, akan ada saatnya Untuk reda. Tapi dengan kehadiran dara di antara kami, kurasa semua harus berakhir. dara sahabatku, aku tak pernah merasa kalah apalagi marah jika dara yang jadi juara kelas. Tapi kalau urusan cinta dia mau bersaing, lain lagi ceritanya. Setelah Adit, aku akan mendatangi dara untuk membuat perhitungan. "Aku memang mencintai dara," Adit jujur kemudian. Kurasakan debar di balik dadaku semakin bergemuruh. Sesak sekaligus menyakitkan "Tapi aku tak mungkin...." "Tak mungkin melepaskanku begitu saja?" potongku sinis. "Kenapa tidak? Kamu pikir aku tak bisa mencari penggantimu, atau kamu pikir kebahagiaan bersamamu tak bisa. kulupa begitu saja? tidak, Adit" lanjutku lagi sambil menggeleng Aku tak tahu kejujuran ataukah sebaliknya yang baru saja kulontarkan lewat kalimatku. Jika itu kejujuran, lalu kenapa aku merasakan perih yang menyayat? Tapi kuyakin juga tak munafik dengan kalimatku barusan. Adit tak hanya mengutukku menjadi kerbau yang dicocok hidungnya, tapi juga mendesain hidupku menjadi sebuah gagang pintu. Aku hanya punya dua arah, ditekan turun, lalu kembali ke tempat semula. Gerakan selain itu, adalah kerusakan bagiku. Lebih sakit lagi, sebagai gagang pintu aku harus selalu berada dalam genggamannya. Dan sekarang giliranku untuk tidak membebaskannya keluar-masuk dalam hatiku. "Jadi kamu tak memaafkanku lagi?" bentaknya kemudian. jika tak terbiasa, aku akan tersentak mendengar suaranya yang tiba-tiba mengeras. "Ini yang terakhir kalinya kamu membentakku...." bentakku juga, meski kalimatku terpotong karena harus menangkap tangannya yang melayang hendak menamparku. "Jangan mimpi bisa menamparku lagi, Adit Kemarin aku menerima semuanya, bentakan juga tamparanmu, karena aku mencintaimu. Tapi sekarang tidak lagi." Saat mata elangnya menatapku lekat, cepat kucari akal untuk menghindar. Jika tidak, aku takut akan terbawa lagi ke pelukannya. Entah atas dorongan apa, tanganku bergerak cepat dan mendaratkan tamparan di wajahnya. Kuyakin dia pun tak pernah menduga bahwa aku berani menamparnya."Jangan pikir cuma kamu yang bisa melakukannya," ucapku kemudian sambil berlalu pergi.
"dina, dengar aku dulu!"
Tak ingin kuberbalik, meski dia memanggil namaku. Tak ingin kutatap matanya saat dia menghadang langkahku. Hanya tamparan yang lebih keras lagi kulayangkan ke wajahnya saat dia mencoba menarik bahuku. untuk dilabuhkan ke pelukannya.
Dan inilah untuk pertama kalinya aku tak perduli pada air matanya. Aku tetap berlalu meski langkahnya terus memburuku.
Kini giliran dara. Dia harus kuberi pelajaran, sahabat seperti itu tak boleh datang dalam hidupku untuk yang kedua kalinya. Dan untuk kali ini, tak boleh ada kata maaf.
Eh, dina, Adit mana?" Gugup dia saat menyadari kehadiranku.
Antara aku dan Adit tak ada lagi hubungan. Itu yang kamu mau, kan? Oke aku kalah, tapi sebelum aku menyaluti kemenanganmu, harus kamu tahu bahwa tak akan pernah ada lagi sahabatmu bernama Dina."
"Dina, dengar aku dulu!"
"Jangan pikir aku buta! Tak bisa membedakan antara sandiwara dan pentas kenyataan."
Bisu kemudian! Aku kehabisan kata sementara dia tak tahu harus mulai dari mana menjelaskan kebohongan yang akan disodorkan sebagai alasan untukku.
"Aku tak pernah mencintai Adit, Dina."
Cerita bohongnya akhirnya menemukan paragraf baru. Kulihat bibirnya masih ingin membuka cerita, rentetan kebohongan tepatnya. Tapi cepat kupotong dengan bentakan diiringi tamparan keras.
"Jangan munafik!"
Kulihat matanya membola, tanda tak percaya bahwa aku akan menamparnya. Emosiku benar-benar mencapai klimaks.
"Kamu yang jangan munafik!" Giliran dia yang meninggikan suara. Air matanya yang tiba-tiba mengucur, sedikit pun tak mengisyaratkan kesedihan. Yang kudapatkan di sana hanyalah penyesalan.
"Kamu pikir aku tak bisa membaca kesedihanmu selama ini?" lanjut dara, mengerutkan keningku! "Aku tahu semuanya, jiwamu tersiksa di sisi Adit. Bukan hanya sekali kulihat adit menamparmu, tapi kamu menyembunyikannya untukku. Di depanku kamu selalu menyepuh cinta Adit dengan warna emas, tapi di mataku tetaplah imitasi."
Tak sadar aku mundur selangkah .dari hadapan dara. Sepertinya aku salah orang. Aku semakin tak bisa berbuat apa-apa saat intonasi suara dara melemah. "Awalnya kupikir, jika itu cinta, nggak ada salahnya kamu mempertahankan Adit. Tapi saat kucoba mendekati Adit untuk menyadarkannya, dia malah berniat mengalihkan cintanya untukku, menduakanmu! Cowok seperti itukah yang kamu pertahankan? Menamparmu dengan alasan cinta tapi ternyata. masih tergoda pada cintaku, padahal aku sahabatmu? Saat itu tak ada jalan lain untukku kecuali menerima cinta Adit, Dina. Agar kamu tahu siapa Adit sesungguhnya. Bagiku, jangankan merampasnya darimu, gratis pun aku tak kan mau. Aku hanya ingin kamu membuka mata. Kalaupun dunia selebar daun kelor, Adit bukanlah cowok satu-satunya." Kutatap kembali tangan yang baru saja kugunakan untuk menampar dara, sahabatku. Rasanya ingin kutampar diriku sendiri karena kebodohanku selama ini. Tapi dara telah meraih tanganku untuk digenggamnya, lalu memelukku erat. Kutumpahkan tangis di bahunya, hingga kusadar siksa jiwa yang menggelisahkanku selama ini, sirna kini. Kata putus yang tadi kuvoniskan untuk dara ternyata harus kuralat, tapi untuk Adit tidak akan pernah. Untuknya, tak akan ada kata maaf.

THE END

0 Comments:

Post a Comment

<< Home